Jumat, 10 Januari 2014

MAKALAH TENTANG ILMU KALAM



MAKALAH METODOLOGI STUDI ISLAM  (SEMESTER III)
 

PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Kehadiran agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin didalamnya terdapat berbagai petunjuk tentang bagaimana seharusnya manusia itu menyikapi hidup dan kehidupan ini secara lebih bermakna dalam arti yang seluas-luasnya.
Sebagai umat Islam sudah seharusnya kita mengetahui tentang ilmu ketuhanan yang biasa disebut Ilmu Kalam. Ilmu kalam berisi tentang berbagai macam pengetahuan tentang ketuhanan baik tentang keesaan Allah, tentang sifat-sifat Allah, sifat wajib, sifat mustahil serta sifat jaiz. selain itu dalam ilmu kalam juga mempelajari tentang sifat-sifat Rasul, sifat wajib, mustahil, serta Jaiz baginya.
Dalam mempelajari Ilmu kalam terdapat berbagai macam tentang model penelitian dalam ilmu tersebut. Di berbagai penelitian terdapat tokoh-tokoh penting serta hasil cipta karya yang dimiliki. mereka banyak meneliti tentang ilmu-ilmu ketuhanan, serta berbagai aliran seperti Mu’tazilah aliran syi’ah, aliran khawarij dan lain sebagainya.


B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah kami adalah sebagai berikut :
1.  Jelaskan tentang pengertian dan sumber-sumber Ilmu Kalam ?
2. Ada berapa model-model penelitian tentang ilmu kalam? Jelaskan !


C.    Tujuan Penelitian
Adapun Tujuan dari makalah yang kami susun adalah :
1.      Agar mahasiswa/I dapat mengetahui dan memahami tentang Ilmu Kalam
2.      Dapat mengetahui lebih jauh tentang macam-macam model penelitian Ilmu Kalam
3.      Mengetahui tokoh-tokoh dalam model penelitian Ilmu kalam
4.      Untuk memenuhi nilai tugas kelompok pada mata kuliah Metodologi Studi Islam
































PEMBAHASAN



A.    Pengertian Ilmu Kalam

                  Ilmu Kalam biasa disebut dengan beberapa nama, antara lain : Ilmu Usuluddin, Ilmu Tauhid, Fiqh Al-Akbar, dan Teologi Islam.[1] Disebut Ilmu Usuluddin karena ilmu ini membahas pokok-pokok agama (Usuluddin); disebut ilmu tauhid karena ilmu ini membahas Keesaan Allah swt. Di dalamnya dikaji pula tentang Asma’ (nama-nama ) dan Af’al (perbuatan-perbuatan) Allah yang wajib, mustahil, dan jaiz, juga sifat yang wajib, mustahil dan jaiz bagi rasulnya.[2] ilmu tauhid sendiri sebenarnya membahas Keesaan Allah swt. Dan hal yang berkaitan dengannya.
                  Abu Hanifah menyebut nama ilmu ini dengan Fiqh Al-Akbar. Menurut persepsinya hukum Islam yang dikenal dengan istilah Fiqh terbagi atas dua bagian. Pertama, Fiqh Al-Akbar, membahas keyakinan atau pokok-pokok agama atau ilmu tauhid. Kedua, Fiqh Al-Ashghar, membahas hal-hal yang berkaitan dengan masalah muamalah, bukan pokok-pokok agama tetapi hanya cabang saja.[3] Ilmu teologi merupakan disiplin ilmu yang berbicara tentang kebenaran wahyu serta independensi filsafat dan ilmu pengetahuan. Teologi ilmu adalah ilmu yang pada intinya berhubungan dengan masalah ketuhanan. Hal ini tidaklah salah karena cara harfiah teologi berasal dari kata teo yang berarti Tuhan dan logi yang berarti ilmu.
                  Seajalan dengan perkembangan ruang lingkup pembahasan ilmu ini,maka teologi terkadang di namai pula ilmu tauhid, ilmu ushuluddin, ilmu aqaid, dan ilmu ketuhanan. Dinamai ilmu aqaid, karena dengan ilmu ini seseorang diharapkan agar meyakini dalam hatinya secara mendalam dan mengikatkan dirinya hanya kepada Allah sebagai Tuhan.[4]
  
                  Kemudian Ada yang mengatakan bahwa ilmu kalam ialah ilmu yang mebicarakan bagaimana menetapkan kepercayaan-kepercayaan keagamaan dengan bukti-bukti yang meyakinkan.[5] Didalam ilmu ini membahas tentang cara ma’rifat (mengetahui secara mendalam) tantang sifat-sifat Allah dan para rasulnya dengan menggunakan dalil-dalil yang pasti mencapai kebahagian hidup abadi.


B.     Sumber-Sumber Ilmu Kalam

Sumbe-sumber ilmu kalam terbagi menjadi tiga yaitu Alqur’an, Hadis, pemikiran manusia. Pertama Alqur’an sebagai ilmu kalam banyak yang menyinggung hal yang berkaitan dengan masalah ketuhanan diantaranya adalah terdapat dalam surat al-ikhlas (112):3-4. Ayat ini menenjukkan bahwa tuhan tidak beranak dan tidak di peranakan serta tidak ada sesuatupun di dunia ini yang tampak sekutu atau sejajar dengannya. Kemudian sumber ilmu kalam dari hadis Nabi saw. Pun banyak mebicarakan masalah-masalah yang membahas ilmu kalam.[6] Adapula beberapa hadis yang kemudian di pahami sebagian ulama sebagai prediksi Nabi mengenai kemunculan berbagai golongan dalam ilmu kalam, diantaranya adalah :
Hadis yang diriwatkan dari Abu Hurairah. r.a. ia mengatakn bahwa Rasulullah bersabda “orang-orang yahudi akan terpacah belah menjadi tujuh puluh dua golongan; dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh golongan.”
Adapun pada pemikiran manusia dalam hal ini, bentuk konkret penggunaan pemikiran Islam sebagai sumber ilmu kalam adalah ijtihad yang dilakukan oleh para mutakallim dalam persoalan-persoalan tertentu yang tidak ada pejelasannya dalam Alqur’an dan hadis, misalnya persoalan Manzillah Bain Al-Manzilatain (posisi tangah di antara dua posisi) dikalangan mu’tazilah; persoalan Ma’shum dan Bada dikalangan Syiah; dan persoalan kasab dikalangan asy’ariyah.


C.    Model-Model Penelitian Ilmu Kalam

         Secara garis besar, peneletian ilmu kalam dapaat di bagi ke dalam dua bagian. Pertama, peneletian yang bersifat dasar dan pemula; dan kedua, peneletian yang bersifat lanjutan atau pengembangan dari penelitian model pertama. Penelitian model pertama ini sifatnya baru pada tahap membangun ilmu kalam menjadi suatu disiplin ilmu dengan merujuk pada Alqur’an dan hadis serta bebagai pendapat tentang kalam yang dimukakan oleh berbagai aliran teologi. Sedangkan peneletian ilmu kedua sifat nya hanya mendeskripsikan tentang ada nya kajian ilmu kalam dengan menggunakan bahan rujuikan yang di hasilkan oleh penelitaian model pertama.

1.      Penelitian Pemula

Melalui peneltian model pertama dapat kita jumpai sejumlah  referensi yang telah di susun oleh beberapa ulama selaku peneliti pertama yang sifat dan keadaan nya telah di sebutkan di atas. Dalam kaitan ini kita jumpai beberapa hasil penelitian sebagai berikut :[7]

a.      Model Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bun Mahmud Al-MaturidyAl-Samarqandy
 Abu manshur Muhammad bin Muhammad Al-Samarqandy telah menulis buku teologi berjudul kitab Al-Tauhid buku ini telah taklik oleh Fathullah Khalif, magister dalam bidang sastra pada Universitas Iskandariyah dan dokter filsafat pada Universitas Cambridge. Dalam buku tersebut selain dikemukakan riwayat hidup secara singkat dari Al-Maturidy, juga telah dikemukakan berbagai masalah detail dan rumit dibidang ilmu kalam. Diantaranya dibahas tentang catatnya taklik dalam hal beriman, serta kewajiban mengetahui agama dengan dalil Al-asma’ (dalil nakli) dan dalil akli; pambahasan tentang alam antrophormisme atau tentang cara Allah menciptakan makhluk, perbuatan makhluk paham qadariyah; qada dan qadar; masalah keimanan; serta tidak adanya dipensasi dalam hal Islam dan iman.

b.                                    Model Al-iman Abi Al-Hasan bin Ismail Al-asy’ari
Al-Iman Abi Al-Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari yang wafat pada tahun 330 hijriah telah menulis buku berjudul Maqalat al-islamiyyin wa ikhtilaf Al-musballin, sebanyak dua juz . juz pertama setebal 351 halaman, sedangkan juz keduanya 279 halaman. Pada juz pertama pada buku tersebut antara lain di bahas mengenai permulaan timbulnya masalah perbedaan pendapat di kalangan umat islam yang di sebabkan karena perbedaan dalam bidang kepemimpinan (imamah dan politik) yang di mulai dari zaman usman Ibn ‘Affan; pembahasan tentang aliran induk (imamah dan al-firq) yang jumlahnya mencapai sepuluh yang pertama adalah aliran syi’ah yang jumlahnya mencapai lima belas aliran.selanjutnya dalam buku itu di bahas pula tentang pebedaan  pendapat di sekitar penanggung arasy (hamalatul arsy) kebolehan bagi Allah dalam menciptakan alam, tentang Alqur’an, perbuatan hamba kehendak Allah, kesanggupan manusia pebuatan manusia dan binatang kelahiran, kembalinya kematian ke dunia sebelum datangnya kiamat  masalah imamah (kepemimmpinan), masalah kerasulan, masalah keimanan, janji baik dan buruk, siksaan bagi anak kecil, tentang tahkim (arbitrase) hakikat manusia, aliaran khawarij dengan bebagai saktenya dan masih banyak lagi masalah rumit yang pada hemat penulis belum banyak dikaji oleh kalangan yang mengaku dirinya sebagai menganut teologi Asya’ariyah.[8]

c.                                     Model ‘abd Al-Jabbar bin ahmad
‘Abd Al-Jabbar bin ahmad menulis buku berjudul Syarh Al-ushul al-khamsah yang tebalnya mencapai 805 halaman buku ini telat fi taklik oleh Dokter Abd Al-Karim ‘Usman dan di terbitkan oleh penerbit. Maktabah Wahhah tanpa menyebutkan tahunnya. Bagi seseorang yang mengkaji tentang ajaran-ajaran mu’tazilah secara mendalam dan mendetail  mau tidak mau harus membaca buku ini  dengan sikap yang wajar dan objektif tanpa di dahului oleh buruk sangka  atau pra konsepsi dikethui bahwa jaran pokok  Mu’tazilah ada lima yaitu tauhid , yaitu mengesakan Allah , al adl yaitu paham keadilan tuhan, al-waad al-waid yakni paham janji baik dan buruk diakhirat, al-manzilah bain al-mamzilatain serta amar ma’ruf nahi munkar.


d.                                    Model Al-Iman Al-Harmain Al-Juwainy (478 H.)
Imam Al-Iman Al-Jawaini yang di kenal sebagai guru dari Imam Al-Ghazali menulis buku berjudul Al-Syamil fi Ushul al-din yang tebalnya 729 halaman. Buku ini telah ditahkik oleh Ali Sami Al-NasyrFhasil badin Uwan dan Suhair Muhammad Mukhtar, dan diterbitkan oleh penerbit Al-ma’arif Iskandariyah tahun 1969 . didalam buku ini di bahas tentang penciptaan alam yang di dalamnya dibahas tentang hakikat jaubar (subtansi), arad (aksidan) menurut pendapat para ahli;kitab tauhid yang di dalamnya di bahas tentang hakikat tauhid, kelemahan kaum Mu’tazilah  penolakan terhadap pendapat yang mengatakan bahwa Tuhan memiliki jisim;pembahasan tentang akidah;kajian tentang dalil atas kesucian allah SWT; pembahasan tentang ta’wil; pembahasan tentang sifat-sifat bagi Allah; masalah illat atau sebab.[9]

e.   Modell Al-Ghazali (w.1111 M.)
Imam Al-Ghazali yang pernah belajar pada Imam Al-Harmain sebagaimana di sebutkan di atas, dan di kenal denagn sebutan Hujjatul Islam telah pula menulis buku berjudul al-Iqtishad, dan telah di terbitkan pada tahun 1962 di mesir. Dalam buku ini di bahas tentang pembahasan bahwa ilmu sangat di perlukan dalam pemahaman agama, tentang perlunya ilmu sebagai fardhu kifayah, pembahasan tentang zat allah, tentang qadimnya [10] alam , tentang bahwa pencipta tidak memiliki jisim, karena jisim memerlukan pada materi dan bentuk; dan penetapan tentang kenabian Muhammad saw.[11]

f.  Model Al-Amidy (551-631 H,)
Saif Al-Din Al-Amid menulis buku berjudul Ghayah al-maram fi ilmu Kalam. Buku yang tebalnya 458 halaman inni telah ditahkik oleh hasan Mahmud ‘Abd Al-Lathif dan di terbitkan pada tahun 1971. Dalam buku ini telah di bahas tentang sifat-sifat yang wajib bagi Allah sifat-sifat nafsiyah yaitu sifat Iradah, sifat ilmu, sifat qudrar, sifat kalam daan sifat idrakat, pembahasan tentang sifat yang jaiz bagi allah, pembahasan tentang keesaan Allah Ta’ala, perbuatan yang berbuatan yang bersifat wajib Al-wujud, tentang tidak ada pencipta selain allah, tentang barunta alam serta tidak adanya sifat tasalsul dan tentang imamah.

2. Penelitian Lanjutan
Dalam Ilmu kalam juga terdapat penelitian yang bersifat Lanjutan. yakni penelitian atas sejumlah karya yang dilakukan oleh para peneliti pemula. kemudian para peneliti mencoba melakukan deskripsi, analisis, klasifikasi, generalisasi.

a.      Model Abu Zahrah

Abu Zahra melakukan penelitian terhadap aliran dalam bidang politik dan teologi yang dituangkan dalam karyanya berjudul : Tarikh Al-Mazabib Al-Islamiyah fi Al siyasah wa Al-‘Aqoid. mengangkat pertentangan berbagai aliran bidang politik yang berdampak pada masalah teologi. Dikemukakan pula tentang berbagai aliran mazhab Syi’ah yang mencapai dua belas golongan. Al-Sabaiyah, Al-Ghurabiyah dll. Dan yang keluar dari golongan syi’ah seperti Al-Kisaniyah, Al-Zaidiyah, dll. kemudian dijelaskan pula tentang aliran khawarij, Jabariyah, Qadariyah, Asy’ariyah dengan pandangan teologinya.
Aliran khawarij adalah suatu aliran pengikut Ali bin abi Thalib yang keluar meninggalkan barisan karena ketidaksepakatan terhadap keputusan Ali yang menerima arbitrase (tahkim) dalam perang siffin tahun 37 H/648M.[12]

b.      Model Ali Mustafa Al-Ghurabi
Model penelitiannya tentang berbagai aliran yang terdapat dalam Islam serta pertumbuhan Ilmu Kalam di kalangan umat Islam. Karya beliau berjudul , Tariks al-firaq Islamiyah wa nasy’atu Ilmu kalam ‘ind al-muslimin. Didalam karyanya membicarakan tentang pertumbuhan Ilmu kalam, keadaan akidah pada zaman Rasulullah zaman khulafaur Rasyiddin, zaman bani Ummayah dengan berbagai masalah-masalah teologi pada masa tersebut.

c.       Model Abd Al-Lathif Muhammad Al-‘Asyr
Secara khusus melakukan penelitian tentang pokok-pokok pemikiran yang dianut oleh aliran ahl sunnah. adapun hasil karya beliau berjudul Al-ushul al-fiqriyyah li mazbab ahl al sunnah sebanyak 162 halaman. buku ini diterbitkan oleh Dar al-Nahdlah al-arabiyah di Mesir. dalam karyanya membahas tentang pokok-pokok yang menyebabkan timbulnya perbedaan pendapat dikalangan umat Islam; masalah mantiq, dan falsafah, hubungan mantiq dengan ilmu-ilmu kemanusiaan, bentuk dan pemikiran, pembentukan konsep barunya alam, sifat yang melekat pada Allah Azza wa Jalla, nama-nama tuhan, keadilan tuhan dan lain sebagainya.

d.      Model Harun Nasution
Harun nasution adalah guru besar filsafat dan teologi banyak mencurahkan perhatiannya pada penelitian dibidang pemikiran teologi Islam (Ilmu Kalam). Beliau lahir pada tanggal 23 September 1919 di Sumatera. riwayat pendidikannya dimulai dari sekolah Belanda HIS. berlangsung selama 7 tahun di sekolah tersebut, kemudian meneruskan di MIK (Modern Islamietische Kweekschool) di Bukittinggi pada tahun1934. kemudian melanjutkan ke Universitas Al-Azhar Mesir, sambil kuliah di Al-Azhar, ia juga kuliah di Universitas Amerika di Mesir. kemudilan lanjut di Mc. Gill, Kanada tahun 1962.[13] setelah lulus di Universitas Harun Nasution menjadi dosen di IAIN Jakarta, IKIP Jakarta dan Universitas Nasional.
Beliau mempunyai karya dalam ilmu kalam tentang Fi Ilm Al-Kalam (Teology Islam) . dalam bukunya membahas tentang persoalan teology dalam Islam dan tentang Aliran-aliran dalam teologi serta tokoh-tokoh pemikirannya. Harun Nasution juga menganalisa dan perbandingan terhadap akal dan wahyu, free will dan predestination, kekuasaan dan kehendak mutlak tuhan, keadilan tuhan, perbuatan-perbuatan tuhan, sifat-sifat tuhan serta konsep iman.


















PENUTUP


A.    Kesimpulan

            Ilmu Kalam ialah Ilmu yang membicarakan bagaimana menetapkan kepercayaan-kepercayaan keagamaan dengan bukti-bukti yang meyakinkan. Didalam Ilmu ini membahas semua tentang Ketuhanan serta aliran-aliran dalam Islam. Sumbe-sumber ilmu kalam terbagi menjadi tiga yaitu Alqur’an, Hadis, pemikiran manusia.
Secara garis besar, peneletian ilmu kalam dapaat di bagi ke dalam dua bagian. Pertama, peneletian yang bersifat dasar dan pemula; dan kedua, peneletian yang bersifat lanjutan atau pengembangan dari penelitian model pertama. Penelitian model pertama ini sifatnya baru pada tahap membangun ilmu kalam menjadi suatu disiplin ilmu dengan merujuk pada Alqur’an dan hadis serta bebagai pendapat tentang kalam yang dimukakan oleh berbagai aliran teologi. Sedangkan peneletian ilmu kedua sifat nya hanya mendeskripsikan tentang ada nya kajian ilmu kalam dengan menggunakan bahan rujuikan yang di hasilkan oleh penelitaian model pertama.
Adapun tokoh-tokoh dalam model penelitian Pemula seperti  Model Al-iman Abi Al-Hasan bin Ismail Al-asy’ari, Model Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bun Mahmud Al-MaturidyAl-Samarqandy, Model ‘abd Al-Jabbar bin ahmad, dll. sedangkan model penelitian lanjutan seperti, Model Abu Zahrah, Model Ali Mustafa Al-Ghurabi, Harun Nasution, dll.

B.     Saran-Saran
-      Kita sebagai umat muslim wajib mempelajari Ilmu kalam karena dalam ilmu ini membicarakan tentang ketuhanan
-      Selain mempelajari Ilmu Kalam, kita juga dianjurkan untuk mengetahui model-model penelitian dalam ilmu kalam, supaya kita dapat memahami baik tokoh-tokohnya serta kitab yang mereka susun mengenai Ilmu kalam.



DAFTAR PUSTAKA



Anwar, Rosihon. Abdul, Rozak. Ilmu Kalam, Bandung; Pustaka setia, 2003.

Nata, Abuddin. Metodologi Studi Islam, Jakarta; RajaGrafindo Persada, 2004.

Hanafi. Theology Islam, Jakarta; Pustaka Al-Husna, 1980.


[1] Lihat Musthafa Abd Ar-Razaq, Tamhid li tarikh Al-Falsafah Al-Islamiyah, Lajnah wa At-  Tha’lif wa At-Tarjamah wa An-Nasyr, 1959, hlm 265.
[2] Muhammad Abduh,Risalaqh Tauhid, terj. Firdaus An., Bulan Bintang, Jakarta 1965, hlm 25.
[3] Ibid., hlm. 268.
[4] A.Hanafi, op. cit, hlm 11-12.
[5] Husain bin Muhammad al-jassar, I-Husbun al-hamidiyah li-Mubafadzab ‘ala al-‘qaid al-islamiyah (Bandung: Syirkah al-Ma’arif), h. 7.
[6] Abd Al-Qahir bin Thahir bin Muhammad Al-Baghdadi Al-Ishfiraini At-taimi, Al-Farq bain Al-Firaq, Muhammad Ali Shahib wa Auladuh,Mesir.1037, hlm. 5-7.
       [7]  Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: RajaGrafindo Persada 2004). hlm. 270.
                [8] Al-iman Abi Al-Hasan Ali bin IsmailAl-Asy’ary.Maqalat al-ilamiyyinwa ikhtilafal-musballin, (Bairut: Dar al-Fikr,t.t.)
          [9] Imam Al-hamarain, al-Syamil fi ushul al-Din lil Imam al-Harmain al-Juwainy, di Tahkik oleh   Ali Sami’’ Al-Nasyr, Fashil Badir Uwan dan Badir Muhammad Mukhtar, (Iskandariyah; Al-Ma’arif, 1969).
[10] Saif Al-Din Al-amidy,  Ghayah Al-Maram fi Ilmu Al-Kalam, 9Mesir:Muhammad Tofik Uwaidlah, 1971).
[11] Hujjatul Islam Al-Iman Muhammad Abi Hamid Al-Ghazali, Al-Iqtishad fi fi’Itiqad, (Mesir; Maktabah Al-Halaby), 1962 M.
[12] Rosihon Anwar, Ilmu Kalam, ( Bandung:Pustaka Setia 2003). hlm. 49.
[13]  Rosihon Anwar, Ilmu Kalam, cet 2, (Bandung:Pustaka Setia,2003). hlm. 240.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar