MAKALAH METODOLOGI STUDI ISLAM (SEMESTER III)
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kehadiran agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.
diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan
batin didalamnya terdapat berbagai petunjuk tentang bagaimana seharusnya
manusia itu menyikapi hidup dan kehidupan ini secara lebih bermakna dalam arti
yang seluas-luasnya.
Sebagai umat Islam sudah seharusnya kita mengetahui
tentang ilmu ketuhanan yang biasa disebut Ilmu Kalam. Ilmu kalam berisi tentang
berbagai macam pengetahuan tentang ketuhanan baik tentang keesaan Allah,
tentang sifat-sifat Allah, sifat wajib, sifat mustahil serta sifat jaiz. selain
itu dalam ilmu kalam juga mempelajari tentang sifat-sifat Rasul, sifat wajib,
mustahil, serta Jaiz baginya.
Dalam mempelajari Ilmu kalam terdapat berbagai macam
tentang model penelitian dalam ilmu tersebut. Di berbagai penelitian terdapat
tokoh-tokoh penting serta hasil cipta karya yang dimiliki. mereka banyak
meneliti tentang ilmu-ilmu ketuhanan, serta berbagai aliran seperti Mu’tazilah
aliran syi’ah, aliran khawarij dan lain sebagainya.
B.
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah kami adalah sebagai berikut :
1. Jelaskan tentang pengertian dan sumber-sumber Ilmu Kalam ?
1. Jelaskan tentang pengertian dan sumber-sumber Ilmu Kalam ?
2. Ada
berapa model-model penelitian tentang ilmu kalam? Jelaskan !
C.
Tujuan Penelitian
Adapun Tujuan dari makalah yang kami susun adalah :
1.
Agar mahasiswa/I dapat mengetahui
dan memahami tentang Ilmu Kalam
2.
Dapat mengetahui lebih jauh
tentang macam-macam model penelitian Ilmu Kalam
3.
Mengetahui tokoh-tokoh dalam model
penelitian Ilmu kalam
4.
Untuk memenuhi nilai tugas
kelompok pada mata kuliah Metodologi Studi Islam
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Ilmu Kalam
Ilmu
Kalam biasa disebut dengan beberapa nama, antara lain : Ilmu Usuluddin, Ilmu
Tauhid, Fiqh Al-Akbar, dan Teologi Islam.[1]
Disebut Ilmu Usuluddin karena ilmu ini membahas pokok-pokok agama (Usuluddin);
disebut ilmu tauhid karena ilmu ini membahas Keesaan Allah swt. Di dalamnya
dikaji pula tentang Asma’ (nama-nama ) dan Af’al (perbuatan-perbuatan)
Allah yang wajib, mustahil, dan jaiz, juga sifat yang wajib, mustahil dan jaiz
bagi rasulnya.[2] ilmu tauhid
sendiri sebenarnya membahas Keesaan Allah swt. Dan hal yang berkaitan
dengannya.
Abu Hanifah menyebut nama ilmu
ini dengan Fiqh Al-Akbar. Menurut persepsinya hukum Islam yang dikenal
dengan istilah Fiqh terbagi atas dua bagian. Pertama, Fiqh Al-Akbar,
membahas keyakinan atau pokok-pokok agama atau ilmu tauhid. Kedua, Fiqh
Al-Ashghar, membahas hal-hal yang berkaitan dengan masalah muamalah, bukan
pokok-pokok agama tetapi hanya cabang saja.[3]
Ilmu teologi merupakan disiplin ilmu yang berbicara tentang kebenaran wahyu
serta independensi filsafat dan ilmu pengetahuan. Teologi ilmu adalah ilmu yang
pada intinya berhubungan dengan masalah ketuhanan. Hal ini tidaklah salah
karena cara harfiah teologi berasal dari kata teo yang berarti Tuhan
dan logi yang berarti ilmu.
Seajalan dengan perkembangan ruang
lingkup pembahasan ilmu ini,maka teologi terkadang di namai pula ilmu
tauhid, ilmu ushuluddin, ilmu aqaid, dan ilmu ketuhanan. Dinamai ilmu
aqaid, karena dengan ilmu ini seseorang diharapkan agar meyakini dalam
hatinya secara mendalam dan mengikatkan dirinya hanya kepada Allah sebagai Tuhan.[4]
Kemudian Ada yang mengatakan bahwa ilmu
kalam ialah ilmu yang mebicarakan bagaimana menetapkan kepercayaan-kepercayaan
keagamaan dengan bukti-bukti yang meyakinkan.[5]
Didalam ilmu ini membahas tentang cara ma’rifat (mengetahui secara
mendalam) tantang sifat-sifat Allah dan para rasulnya dengan menggunakan dalil-dalil
yang pasti mencapai kebahagian hidup abadi.
B.
Sumber-Sumber Ilmu Kalam
Sumbe-sumber ilmu kalam terbagi menjadi tiga yaitu
Alqur’an, Hadis, pemikiran manusia. Pertama Alqur’an sebagai ilmu kalam banyak
yang menyinggung hal yang berkaitan dengan masalah ketuhanan diantaranya adalah
terdapat dalam surat
al-ikhlas (112):3-4. Ayat ini menenjukkan bahwa tuhan tidak beranak dan tidak
di peranakan serta tidak ada sesuatupun di dunia ini yang tampak sekutu atau
sejajar dengannya. Kemudian sumber ilmu kalam dari hadis Nabi saw. Pun banyak
mebicarakan masalah-masalah yang membahas ilmu kalam.[6]
Adapula beberapa hadis yang kemudian di pahami sebagian ulama sebagai prediksi
Nabi mengenai kemunculan berbagai golongan dalam ilmu kalam, diantaranya adalah
:
Hadis yang diriwatkan dari Abu Hurairah. r.a. ia
mengatakn bahwa Rasulullah bersabda “orang-orang yahudi akan terpacah belah
menjadi tujuh puluh dua golongan; dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh
golongan.”
Adapun pada pemikiran manusia dalam hal ini, bentuk
konkret penggunaan pemikiran Islam sebagai sumber ilmu kalam adalah ijtihad
yang dilakukan oleh para mutakallim dalam persoalan-persoalan tertentu yang
tidak ada pejelasannya dalam Alqur’an dan hadis, misalnya persoalan Manzillah
Bain Al-Manzilatain (posisi tangah di antara dua posisi) dikalangan mu’tazilah;
persoalan Ma’shum dan Bada dikalangan Syiah; dan persoalan
kasab dikalangan asy’ariyah.
C.
Model-Model Penelitian Ilmu
Kalam
Secara garis besar, peneletian
ilmu kalam dapaat di bagi ke dalam dua bagian. Pertama, peneletian yang
bersifat dasar dan pemula; dan kedua, peneletian yang bersifat lanjutan atau
pengembangan dari penelitian model pertama. Penelitian model pertama ini
sifatnya baru pada tahap membangun ilmu kalam menjadi suatu disiplin ilmu
dengan merujuk pada Alqur’an dan hadis serta bebagai pendapat tentang kalam
yang dimukakan oleh berbagai aliran teologi. Sedangkan peneletian ilmu kedua
sifat nya hanya mendeskripsikan tentang ada nya kajian ilmu kalam dengan
menggunakan bahan rujuikan yang di hasilkan oleh penelitaian model pertama.
1.
Penelitian Pemula
Melalui peneltian model pertama dapat kita jumpai
sejumlah referensi yang telah di susun
oleh beberapa ulama selaku peneliti pertama yang sifat dan keadaan nya telah di
sebutkan di atas. Dalam kaitan ini kita jumpai beberapa hasil penelitian
sebagai berikut :[7]
a.
Model Abu Manshur
Muhammad bin Muhammad bun Mahmud Al-MaturidyAl-Samarqandy
Abu manshur Muhammad
bin Muhammad Al-Samarqandy telah menulis buku teologi berjudul kitab Al-Tauhid
buku ini telah taklik oleh Fathullah Khalif, magister dalam bidang
sastra pada Universitas Iskandariyah dan dokter filsafat pada Universitas
Cambridge. Dalam buku tersebut selain dikemukakan riwayat hidup secara singkat
dari Al-Maturidy, juga telah dikemukakan berbagai masalah detail dan
rumit dibidang ilmu kalam. Diantaranya dibahas tentang catatnya taklik dalam
hal beriman, serta kewajiban mengetahui agama dengan dalil Al-asma’
(dalil nakli) dan dalil akli; pambahasan tentang alam antrophormisme
atau tentang cara Allah menciptakan makhluk, perbuatan makhluk paham qadariyah;
qada dan qadar; masalah keimanan; serta tidak adanya dipensasi dalam hal
Islam dan iman.
b.
Model Al-iman Abi
Al-Hasan bin Ismail Al-asy’ari
Al-Iman Abi Al-Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari yang wafat
pada tahun 330 hijriah telah menulis buku berjudul Maqalat al-islamiyyin wa
ikhtilaf Al-musballin, sebanyak dua juz . juz pertama setebal 351 halaman,
sedangkan juz keduanya 279 halaman. Pada juz pertama pada buku tersebut antara
lain di bahas mengenai permulaan timbulnya masalah perbedaan pendapat di
kalangan umat islam yang di sebabkan karena perbedaan dalam bidang kepemimpinan
(imamah dan politik) yang di mulai dari zaman usman Ibn ‘Affan;
pembahasan tentang aliran induk (imamah dan al-firq) yang jumlahnya mencapai
sepuluh yang pertama adalah aliran syi’ah yang jumlahnya mencapai lima
belas aliran.selanjutnya dalam buku itu di bahas pula tentang pebedaan pendapat di sekitar penanggung arasy (hamalatul
arsy) kebolehan bagi Allah dalam menciptakan alam, tentang Alqur’an,
perbuatan hamba kehendak Allah, kesanggupan manusia pebuatan manusia dan
binatang kelahiran, kembalinya kematian ke dunia sebelum datangnya kiamat masalah imamah (kepemimmpinan), masalah
kerasulan, masalah keimanan, janji baik dan buruk, siksaan bagi anak kecil,
tentang tahkim (arbitrase) hakikat manusia, aliaran khawarij dengan bebagai
saktenya dan masih banyak lagi masalah rumit yang pada hemat penulis belum
banyak dikaji oleh kalangan yang mengaku dirinya sebagai menganut teologi
Asya’ariyah.[8]
c.
Model ‘abd Al-Jabbar
bin ahmad
‘Abd Al-Jabbar bin ahmad menulis buku berjudul Syarh Al-ushul
al-khamsah yang tebalnya mencapai 805 halaman buku ini telat fi taklik oleh
Dokter Abd Al-Karim ‘Usman dan di terbitkan oleh penerbit. Maktabah Wahhah
tanpa menyebutkan tahunnya. Bagi seseorang yang mengkaji tentang ajaran-ajaran
mu’tazilah secara mendalam dan mendetail
mau tidak mau harus membaca buku ini
dengan sikap yang wajar dan objektif tanpa di dahului oleh buruk sangka atau pra konsepsi dikethui bahwa jaran
pokok Mu’tazilah ada lima yaitu tauhid ,
yaitu mengesakan Allah , al adl yaitu paham keadilan tuhan, al-waad
al-waid yakni paham janji baik dan buruk diakhirat, al-manzilah bain
al-mamzilatain serta amar ma’ruf nahi munkar.
d.
Model Al-Iman
Al-Harmain Al-Juwainy (478 H.)
Imam Al-Iman Al-Jawaini yang di kenal sebagai guru dari Imam
Al-Ghazali menulis buku berjudul Al-Syamil fi Ushul al-din yang tebalnya
729 halaman. Buku ini telah ditahkik oleh Ali Sami Al-NasyrFhasil badin Uwan
dan Suhair Muhammad Mukhtar, dan diterbitkan oleh penerbit Al-ma’arif
Iskandariyah tahun 1969 . didalam buku ini di bahas tentang penciptaan alam
yang di dalamnya dibahas tentang hakikat jaubar (subtansi), arad (aksidan)
menurut pendapat para ahli;kitab tauhid yang di dalamnya di bahas tentang
hakikat tauhid, kelemahan kaum Mu’tazilah
penolakan terhadap pendapat yang mengatakan bahwa Tuhan memiliki
jisim;pembahasan tentang akidah;kajian tentang dalil atas kesucian allah SWT;
pembahasan tentang ta’wil; pembahasan tentang sifat-sifat bagi Allah; masalah
illat atau sebab.[9]
e. Modell Al-Ghazali
(w.1111 M.)
Imam Al-Ghazali yang pernah belajar pada Imam Al-Harmain
sebagaimana di sebutkan di atas, dan di kenal denagn sebutan Hujjatul Islam
telah pula menulis buku berjudul al-Iqtishad, dan telah di terbitkan
pada tahun 1962 di mesir. Dalam buku ini di bahas tentang pembahasan bahwa ilmu
sangat di perlukan dalam pemahaman agama, tentang perlunya ilmu sebagai fardhu
kifayah, pembahasan tentang zat allah, tentang qadimnya [10] alam
, tentang bahwa pencipta tidak memiliki jisim, karena jisim memerlukan pada
materi dan bentuk; dan penetapan tentang kenabian Muhammad saw.[11]
f. Model Al-Amidy (551-631
H,)
Saif Al-Din Al-Amid menulis buku berjudul Ghayah al-maram fi
ilmu Kalam. Buku yang tebalnya 458 halaman inni telah ditahkik oleh hasan
Mahmud ‘Abd Al-Lathif dan di terbitkan pada tahun 1971. Dalam buku ini telah di
bahas tentang sifat-sifat yang wajib bagi Allah sifat-sifat nafsiyah yaitu
sifat Iradah, sifat ilmu, sifat qudrar, sifat kalam daan sifat idrakat, pembahasan
tentang sifat yang jaiz bagi allah, pembahasan tentang keesaan Allah Ta’ala,
perbuatan yang berbuatan yang bersifat wajib Al-wujud, tentang tidak ada
pencipta selain allah, tentang barunta alam serta tidak adanya sifat tasalsul
dan tentang imamah.
2. Penelitian
Lanjutan
Dalam Ilmu kalam juga terdapat penelitian yang bersifat
Lanjutan. yakni penelitian atas sejumlah karya yang dilakukan oleh para
peneliti pemula. kemudian para peneliti mencoba melakukan deskripsi, analisis,
klasifikasi, generalisasi.
a.
Model Abu Zahrah
Abu Zahra melakukan penelitian terhadap aliran dalam
bidang politik dan teologi yang dituangkan dalam karyanya berjudul : Tarikh
Al-Mazabib Al-Islamiyah fi Al siyasah wa Al-‘Aqoid. mengangkat pertentangan berbagai
aliran bidang politik yang berdampak pada masalah teologi. Dikemukakan pula
tentang berbagai aliran mazhab Syi’ah yang mencapai dua belas golongan.
Al-Sabaiyah, Al-Ghurabiyah dll. Dan yang keluar dari golongan syi’ah seperti
Al-Kisaniyah, Al-Zaidiyah, dll. kemudian dijelaskan pula tentang aliran
khawarij, Jabariyah, Qadariyah, Asy’ariyah dengan pandangan teologinya.
Aliran khawarij adalah suatu aliran pengikut Ali bin
abi Thalib yang keluar meninggalkan barisan karena ketidaksepakatan terhadap
keputusan Ali yang menerima arbitrase (tahkim) dalam perang siffin tahun 37
H/648M.[12]
b.
Model Ali Mustafa
Al-Ghurabi
Model penelitiannya tentang berbagai aliran yang
terdapat dalam Islam serta pertumbuhan Ilmu Kalam di kalangan umat Islam. Karya
beliau berjudul , Tariks al-firaq Islamiyah wa nasy’atu Ilmu kalam ‘ind al-muslimin.
Didalam karyanya membicarakan tentang pertumbuhan Ilmu kalam, keadaan akidah
pada zaman Rasulullah zaman khulafaur Rasyiddin, zaman bani Ummayah dengan
berbagai masalah-masalah teologi pada masa tersebut.
c.
Model Abd Al-Lathif
Muhammad Al-‘Asyr
Secara khusus melakukan penelitian tentang pokok-pokok
pemikiran yang dianut oleh aliran ahl sunnah. adapun hasil karya beliau
berjudul Al-ushul al-fiqriyyah li mazbab ahl al sunnah sebanyak 162
halaman. buku ini diterbitkan oleh Dar al-Nahdlah al-arabiyah di Mesir. dalam
karyanya membahas tentang pokok-pokok yang menyebabkan timbulnya perbedaan
pendapat dikalangan umat Islam; masalah mantiq, dan falsafah, hubungan mantiq
dengan ilmu-ilmu kemanusiaan, bentuk dan pemikiran, pembentukan konsep barunya
alam, sifat yang melekat pada Allah Azza wa Jalla, nama-nama tuhan,
keadilan tuhan dan lain sebagainya.
d.
Model Harun Nasution
Harun nasution adalah guru besar filsafat dan teologi banyak
mencurahkan perhatiannya pada penelitian dibidang pemikiran teologi Islam (Ilmu
Kalam). Beliau lahir pada tanggal 23 September 1919 di Sumatera. riwayat
pendidikannya dimulai dari sekolah Belanda HIS. berlangsung selama 7 tahun di
sekolah tersebut, kemudian meneruskan di MIK (Modern Islamietische Kweekschool)
di Bukittinggi pada tahun1934. kemudian melanjutkan ke Universitas Al-Azhar
Mesir, sambil kuliah di Al-Azhar,
ia juga kuliah di Universitas
Amerika di Mesir. kemudilan lanjut di Mc. Gill, Kanada tahun 1962.[13] setelah
lulus di Universitas Harun Nasution menjadi dosen di IAIN Jakarta, IKIP Jakarta
dan Universitas Nasional.
Beliau mempunyai karya dalam ilmu kalam tentang Fi Ilm
Al-Kalam (Teology Islam) . dalam bukunya membahas tentang persoalan teology
dalam Islam dan tentang Aliran-aliran dalam teologi serta tokoh-tokoh
pemikirannya. Harun Nasution juga menganalisa dan perbandingan terhadap akal
dan wahyu, free will dan predestination, kekuasaan dan kehendak mutlak tuhan,
keadilan tuhan, perbuatan-perbuatan tuhan, sifat-sifat tuhan serta konsep iman.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ilmu Kalam ialah Ilmu yang
membicarakan bagaimana menetapkan kepercayaan-kepercayaan keagamaan dengan
bukti-bukti yang meyakinkan. Didalam Ilmu ini membahas semua tentang Ketuhanan
serta aliran-aliran dalam Islam. Sumbe-sumber ilmu kalam terbagi menjadi tiga
yaitu Alqur’an, Hadis, pemikiran manusia.
Secara
garis besar, peneletian ilmu kalam dapaat di bagi ke dalam dua bagian. Pertama,
peneletian yang bersifat dasar dan pemula; dan kedua, peneletian yang bersifat
lanjutan atau pengembangan dari penelitian model pertama. Penelitian model
pertama ini sifatnya baru pada tahap membangun ilmu kalam menjadi suatu
disiplin ilmu dengan merujuk pada Alqur’an dan hadis serta bebagai pendapat
tentang kalam yang dimukakan oleh berbagai aliran teologi. Sedangkan peneletian
ilmu kedua sifat nya hanya mendeskripsikan tentang ada nya kajian ilmu kalam
dengan menggunakan bahan rujuikan yang di hasilkan oleh penelitaian model
pertama.
Adapun
tokoh-tokoh dalam model penelitian Pemula seperti Model Al-iman Abi Al-Hasan bin Ismail
Al-asy’ari, Model Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bun Mahmud
Al-MaturidyAl-Samarqandy, Model ‘abd Al-Jabbar bin ahmad, dll. sedangkan model
penelitian lanjutan seperti, Model Abu Zahrah, Model Ali Mustafa Al-Ghurabi,
Harun Nasution, dll.
B.
Saran-Saran
- Kita sebagai umat muslim wajib mempelajari Ilmu kalam karena
dalam ilmu ini membicarakan tentang ketuhanan
- Selain mempelajari Ilmu Kalam, kita juga dianjurkan untuk
mengetahui model-model penelitian dalam ilmu kalam, supaya kita dapat memahami
baik tokoh-tokohnya serta kitab yang mereka susun mengenai Ilmu kalam.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Rosihon. Abdul, Rozak. Ilmu
Kalam, Bandung;
Pustaka setia, 2003.
Nata, Abuddin. Metodologi Studi
Islam, Jakarta;
RajaGrafindo Persada, 2004.
Hanafi. Theology Islam, Jakarta; Pustaka Al-Husna,
1980.
[1]
Lihat Musthafa Abd Ar-Razaq, Tamhid li tarikh Al-Falsafah Al-Islamiyah,
Lajnah wa At- Tha’lif wa At-Tarjamah wa
An-Nasyr, 1959, hlm 265.
[2] Muhammad
Abduh,Risalaqh Tauhid, terj. Firdaus An., Bulan Bintang, Jakarta 1965, hlm 25.
[3] Ibid.,
hlm. 268.
[4]
A.Hanafi, op. cit, hlm 11-12.
[5]
Husain bin Muhammad al-jassar, I-Husbun al-hamidiyah li-Mubafadzab ‘ala
al-‘qaid al-islamiyah (Bandung:
Syirkah al-Ma’arif), h. 7.
[6]
Abd Al-Qahir bin Thahir bin Muhammad Al-Baghdadi Al-Ishfiraini At-taimi,
Al-Farq bain Al-Firaq, Muhammad Ali Shahib wa Auladuh,Mesir.1037, hlm. 5-7.
[10]
Saif Al-Din Al-amidy, Ghayah Al-Maram fi
Ilmu Al-Kalam, 9Mesir:Muhammad Tofik Uwaidlah, 1971).
[11]
Hujjatul Islam Al-Iman Muhammad Abi Hamid Al-Ghazali, Al-Iqtishad fi fi’Itiqad,
(Mesir; Maktabah Al-Halaby), 1962 M.
[12] Rosihon
Anwar, Ilmu Kalam, ( Bandung:Pustaka
Setia 2003). hlm. 49.
[13] Rosihon Anwar, Ilmu Kalam, cet 2, (Bandung:Pustaka
Setia,2003). hlm. 240.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar